MEREKA ADALAH KELUARGAKU

Published at:

MEREKA  ADALAH  KELUARGAKU

Meski dengan keringat dibawah teriknya matahari yang seakan tak mampu memudarkan semangat  si gadis cantik berambut hitam sebahu, yang tetap memperlihatkan senyum manisnya.  Gadis itu bernama Heny,  saat ini berusia 18 tahun. Suasana Ibukota yang ramai di tengah hiruk pikuknya kendaraan adalah hal yang baru bagi seorang gadis yang berasal dari kampung  yang baru saja menginjakkan kaki di Ibukota.  Tidak ada tempat ataupun orang yang pasti yang akan ia jumpai di Kota ini, bermodal tekat dan kenyakinan yang kuat untuk menghapus kemiskinan keluarganya adalah modal utama gadis ini, ia tidak ingin garis keturunan yang sama seperti sang Ibu yang kurang beruntung akan ia alami. “ Tidak jauh aku memahami pergaulan di kota sebesar ini, apakah akan ku temukan sahabat sejati ? akankah ada keluarga sehati yang akan kutemui ? ataukah ada deskriminasi di kota yang besar ini ? entahlah, yang pasti semangatku tidak akan mengubah kenyakinanku “  pikir Heny.

Dengan bermodalkan uang  seadanya Heny tinggal di sebuah kamar kontrakan sambil mencari pekerjaan. Usaha dan semangat yang tiada pudar, Doa yang tiada henti-hentinya ia panjatkan akhirnya Tuhan membukakan jalan untuknya, Heny di terima bekerja di sebuah Rumah Sakit. “Bahagia“, iya ini adalah kebahagian terindah yang dirasakan oleh Heny. Doa dan semangat adalah kunci utama baginya untuk mengawali hari ketika pagi menjelang, tak lupa Heny selalu menyampaikan segala curahan hatinya, Impian, harapan dan masa depan serta keluarganya kepada-Nya yang empunya kehidupan. Meski begitu tidak jarang ia mengalami hal- hal sulit di tempat pekerjaannya, dengan Team kerja yang beragam sifat, bahasa dan kenyakinan bahkan yang menjadi beban terberatnya saat ini adalah hubungan dengan atasannya langsung, entah kenapa Heny selalu merasakan adanya ketidaksenangan atasannya terhadap dirinya, hingga suatu hari ia merasakan kecewa yang begitu mendalam ketika ia menerima lembar kertas yang berisi surat pernyataan pemutusan hubungan kerja. Masih dengan kesedihan dan kecewa yang mendalam Heny berusaha mencari tau kesalahan besar apa yang telah ia perbuat sehingga ia harus di PHK ? apa salahku ?? kenapa ?? kenapa mereka tidak menyukaiku ?? bukankah selama ini aku bekerja dengan baik ?? bukankah aku sudah cukup loyalitas ?? Tuhan... betapa tidak adilnya hidup yang saat ini aku rasakan, begitu keluh Heny.

Malam hari setelah kejadian itu, Heny bergumul sepanjang malam, Ia berdoa dan terus berdoa sebab ia percaya sama halnya seperti muzijat doa adalah misteri “ Tuhan jauh melebihi semua harapanku, menjawab doa-doaku dengan cara-cara yang tidak dapat dipercaya bahkan terkadang seperti sebuah drama. Entah bagaimana caranya aku akan mempercayai  muzijat yang begitu luar biasa ini, saat keesokan harinya aku kembali ke RS tempat ku bekerja yang sebentar lagi akan aku tinggalkan, yang aku pikir adalah hari terakhir bagiku berada di tempat ini, aku melangkah menuju personalia dan saat itulah kejadian besar ini aku alami, entah bagaimana cara Tuhan mengubah surat PHK menjadi SK Pengangkatan Karyawan Tetap. Aku menagis bahagia, lagi-lagi kebahagian terindahku ada di sini, di Rumah Sakit ini. Iya, aku tahu persis bahwa Tuhan memang mampu, tetapi aku tidak menduga bahwa sesuatu yang ajaib dan mengagumkan sekali terjadi padaku. “ Bagaimanakah akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku ? ( Mazmur 116 : 12 ) “

Dengan semangat baru dan penuh bahagia Heny berlari menuju ruang kerjanya, menunjukkan  SK Pengangkatannya kepada atasannya, dan untuk pertama kalinya atasannya memberikan pelukan hangat kepadanya, “ Selamat Heny kamu telah berhasil, teruslah berkarya dan bekerja dari hati yang paling tulus “ungkapan atasannya itu menjadi kalimat yang selalu tergiang telinga Heny.

“ Hari ini aku dan atasanku mengobrol banyak, tentang pekerjaan, tentang rencana masa depan, tentang keluarga, dan sejak saat itulah aku mengenalnya lebih dalam, dan satu hal yang selalu ku syukuri adalah hubunganku dengan beliau, beliau bagaikan orangtua bagiku. Kusadari selama ini aku telah salah menilainya dan team kerja yang lain, aku senang bermain dengan pikiranku sendiri hingga keberadaan orang-orang disekitarku,  yaitu mereka yang setiap hari bersamaku yang kuanggab tidak memperdulikanku ternyata mereka adalah keluargaku, mereka adalah orang-orang yang mengajariku banyak hal, tentang suka-dukanya kehidupan, tentang masa-masa sulit dan bahkan hal-hal konyol sekalipun kita lalui bersama setiap hari. Kusadari bahwa dalam sebuah kebersamaan tidak melulu tentang kebahagiaan seperti yang kutemukan dilingkungan pekerjaanku, ada kecewa, ada airmata, tapi tidak lepas dari tawa dan disitulah kutemukan kasih, kasih kekeluargaan”.

Kini dapat kurasakan bahwa aku semakin diberkati terus selama berada dilingkungan pekerjaan, aku akan terus berhati hamba dan mendedikasikan hidup kepada Tuhan melalui pekerjaan saya yang telah melihat berbagai muzijat-Nya dan kini DIA telah menempatkanku ditempat yang damai, diantara mereka. Mereka... adalah keluargaku.

 

Karya : Evi Hestiani Pakpahan